Guna menstimulasi Pemerintah Kalurahan untuk menindaklanjuti kegiatan konevergensi pencegahan stunting, Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Gizi Kapanewon Depok yang dikoordinatori oleh Puskesmas Depok 1,2 dan 3, menggelar Sosialisasi Percepatan Penanggulangan Stunting, pada Selasa (12/10/2021).
Kegiatan ini untuk memantau dan mengevaluasi kinerja Pokjanal Gizi dan memberikan pemahaman kepada lintas sektoral seperti Muspika, Pemerintah Kalurahan, Penyuluh KB, Himpaudi, dan kader, serta dinas terkait yaitu Dinas Kesehatan dan Bappeda Sleman.
Tahun 2021 Sleman masuk lokus stunting berdasarkan Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor Kep.42/M.Ppn/Hk/04/2020. Seluruh Kabupaten Kota di DIY pada tahun 2021 menjadi Lokus Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi.
“Mendukung program tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman telah mengeluarkan Peraturan Bupati Sleman Nomor 27 Tahun 2019 tentang Program Percepatan Penanganan Balita Stunting”, terang Vista Ari Rahmawati, Nutrisionis Muda Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.
Lebih lanjut Vista menerangkan bahwa di dalam Perbup tersebut, untuk menanggulangi stunting diperlukan intervensi gizi dan upaya perbaikan gizi. Salah satu bentuk intervensi gizi, yaitu intervensi gizi sensitif. Intervensi ini merupakan upaya pembangunan di luar sektor kesehatan dengan sasaran masyaraka umum.
“Untuk itu kami menggandeng Himpaudi, Himpunan Pendidik Anak Usia Dini, karena anak-anak balita, kelompok bermain, maupun tempat penitipan anak, menjadi sasaran dalam inovasi percepatan pencegahan stunting”, imbuhnya.
Sementara itu, Heribertus Riswidodo Kepala Bidang Pemerintahan dan Sumber Daya Manusia Bappeda Sleman menyampaikan kebijakan-kebijakan yang diambil Pemkab Sleman untuk menanggulangi Stunting. Sleman telah menuangkan 8 aksi integrasi konvergensi stunting seperti seperti intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif, serta kampanye perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Permasalahan stunting tidak hanya dilihat dari sisi kesehatan saja, tetapi banyak sektor terlibat. Maka diperlukan integrasi, kolaborasi, dan koordinasi lintas sektoral”, terangnya.
Dari hasil pemantauan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Depok Raya tersebut, tren presentase balita stunting mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
“Jika tahun 2019 masih ada 5,51% balita stunting, tahun 2020 turun menjadi 4,63”, jelas Djoko Muljanto saat memamparkan materi profil gizi di wilayah Kapanewon Depok. Meskipun demikian, ternyata persentase orang tua untuk menimbangkan balita di Posyandu masih di bawah target.
“Perlu mendorong orang tua untuk berpartisipasi memantau tumbuh kembang anak, salah satunya melalui Posyandu”, imbuh Djoko.
Untuk itu, pihaknya menyampaiakan agar tetap Mengaktifkan pokjanal posyandu dan Mengaktifkan kader dalam pemberian makan bayi dan anak. Diperlukan kerja sama berbagai pihak untuk mendorong orang tua balita tetap melaksanakan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balitanya baik secara mandiri maupun melalui posyandu.
Be the first to comment